Thursday, March 21, 2013

Tangkasnet Update Terbaru - ''Tragedi'' GOR Kertajaya 1996 Jadi Motivasi Ekstra

Tangkasnet Update Terbaru - ''Tragedi'' GOR Kertajaya 1996 Jadi Motivasi Ekstra 

Rgo88.com adalah tangkas online dengan setelan versi darat terpercaya -
GOR Kertajaya meninggalkan kenangan pahit bagi Eduard Santos "Dong" Vergeire saat menjadi pelatih timnas Filipina. Kini, sebagai pelatih CLS Knights, dia berjuang untuk mengukir kenangan indah di markas tim basket kebanggaan Surabaya itu.
---
KENANGAN pahit tersebut terjadi 16 tahun silam. Saat itu, pada Kejuaraan Basket Asia Tenggara (SEABA) 1996, Filipina kalah ketika melawan Indonesia. Akibatnya, Filipina yang dikenal sebagai raja basket Asia Tenggara harus puas berada di urutan kedua klasemen akhir turnamen. Coach Dong - panggilan Eduard Santos Vergeire - adalah pelatih kepala timnas Filipina saat itu.

Itulah kekalahan pertama dan satu-satunya Filipina dari Indonesia dalam ajang SEABA maupun SEA Games. Meski setahun kemudian Filipina mampu meraih emas SEA Games 1997 Jakarta, kekecewaan atas kekalahan tersebut belum sepenuhnya hilang. Khususnya bagi Coach Dong, meski dialah pelatih yang mengantarkan Filipina merebut emas di Jakarta.

Tidak dinyana, tahun ini Dong kembali ke GOR Kertajaya. Tidak datang sebagai lawan, dia menjadi pelatih tim yang bermarkas di sana, CLS Knights. Pelatih berambut pendek itu bertekad mengukir hasil manis di tempat yang dulu membuatnya kecewa tersebut.

"Mungkin ini sudah jalan hidup saya. Tentu saya tidak akan melupakan tempat ini (GOR Kertajaya, Red). Siapa sangka saya akhirnya bekerja di sini," kata pelatih kelahiran Manila pada 15 September 1966 tersebut.

Melatih CLS, bagi Dong, adalah pengalaman pertamanya membesut tim profesional di Indonesia. Namun, dia tidak sepenuhnya buta. Sebab, asistennya di timnas pada akhir 1995, David "Boyce" Zamar, sudah sangat kenal dengan iklim kompetisi di Indonesia. Boyce pernah melatih beberapa tim profesional Indonesia, antara lain Aspac Jakarta, Garuda Bandung, dan Angsapura Medan.

"Boyce mengatakan kepada saya bahwa kompetisi Indonesia cukup menarik. Apalagi, liga sedang bangkit. Jadi, ketika CLS menawari, saya tidak lama berpikir untuk mengatakan yes...," tegasnya.

"Saya kira liga ini (NBL Indonesia) sudah menuju arah yang sangat profesional dan terorganisasi dengan baik. Saya tidak sabar untuk memulainya," imbuh dia.

Memang, proses perekrutan Coach Dong sangat cepat. Awal Juli lalu, seusai pelaksanaan NBL Indonesia All-Star 2012, bos CLS Christopher Tanuwidjaja, atas rekomendasi seorang koneksinya, meminta Coach Dong menjadi pelatih. Sebagai penjajakan, Coach Dong sempat datang ke Surabaya, berkenalan dengan pemain menjelang NBL All-Star.

Itop - panggilan Christopher Tanuwidjaja - ingin mengganti Risdianto Roeslan yang menukangi CLS musim lalu. Lewat negosiasi yang tidak terlalu berbelit, Dong akhirnya menerima tawaran Itop. Pada 27 Agustus 2012, Dong resmi melatih Dimaz Muharri dkk. "Saya langsung mewawancarai pemain satu per satu. Ini untuk mengenal mereka dan agar terjalin chemistry," kata Dong.

CLS tentu saja beruntung mendapatkan tanda tangan pelatih sekaliber Coach Dong. Dia malang melintang sebagai pelatih di kompetisi elite antaruniversitas di Filipina, baik NCAA ataupun UAAP. Karir Dong di kompetisi profesional paling top di Filipina (PBA) terjadi pada 1999, saat dia membesut Centennial Team. Ketika menjadi asisten pelatih Mobiline (sekarang Talk 'N Text) pada tahun yang sama, pelatih 46 tahun itu berhasil membawa timnya menembus semifinal.

Puncak karir Coach Dong terjadi ketika memimpin tim kampus Saint Benilde Blazers menjadi juara NCAA pada 2000. Tidak cuma itu, suami Girlie Vergeire tersebut juga terpilih sebagai pelatih terbaik alias coach of the year. Pada 2005 Coach Dong meraih emas keduanya di SEA Games Vietnam. (*/c9/ang)

No comments:

Post a Comment