Thursday, March 21, 2013

Tangkas Bet Online - Respek Sih, Tapi Siap Habis-habisan Saat Bertemu SM

Tangkas Bet Online - Respek Sih, Tapi Siap Habis-habisan Saat Bertemu SM 

Rgo88.com adalah tangkas online dengan setelan versi darat terpercaya - Wahyu "Cacing" Widayat Jati bisa disebut sebagai legenda Satria Muda (SM) Britama Jakarta. Selama 14 tahun Cacing setia membela tim tersukses di tanah air itu. Musim ini Cacing membela Dell Aspac Jakarta, seteru abadi SM.
---

Melihat Wahyu "Cacing" Widayat Jati bertanding dengan memakai jersey Dell Aspac Jakarta melawan Stadium Jakarta tadi malam (13/10) terasa agak aneh. Terutama bagi fans SM.

Betapa tidak, selama 14 tahun, mulai 1995 sampai 2009, Cacing menjadi pilar SM. Di sana pria kelahiran Magelang tersebut meraih sukses besar, enam kali juara pada 1999, 2004, 2006, 2007, 2008, dan 2009.

Tak heran, Cacing mendapatkan pengakuan dari fans dan manajemen SM. Dia dianggap legenda. Jersey nomor 10 yang dulu selalu dipakainya dipensiunkan, digantung di langit-langit markas SM, Britama Arena Sports Mall, Kelapa Gading, Jakarta. "Saya memang orang yang setia," kata Cacing lantas tertawa lebar ketika bercerita tentang kiprah panjangnya bersama SM.

Ya, Cacing memang pemain yang loyal. Berkarir selama 20 tahun, Cacing hanya pernah membela tiga klub. Sebelum di SM dan Aspac, Cacing muda memulai karir bersama klub Mitra Guntur Jakarta pada 1992. Di sana dia bertahan sampai 1995 sebelum SM merekrutnya.

Cacing menjelaskan, proses bergabung dengan Aspac terjadi sangat cepat. Setelah lulus studi personal trainer di City College of San Francisco, Amerika Serikat (AS), September lalu, bos Aspac Irawan "Kim Hong" Haryono meminta Cacing bergabung. Lewat perantara adik Kim Hong di AS, Cacing akhirnya sepakat untuk come back ke basket profesional.

"Memang serba kebetulan. Namun, timing-nya juga pas. Koh Kim Hong minta tolong untuk membantu Aspac. Saya jawab, akan saya usahakan. Saya memang berminat pada tawaran itu," ungkap Cacing.

Sesudah pensiun dari basket pada 2010, Cacing memutuskan untuk menempuh studi ke AS. Selama dua tahun menimba ilmu di sana, Cacing masih sering bermain basket. Namun, karena sudah tidak menjadi atlet profesional, dia tidak terlalu serius menjaga kondisi fisiknya.

"Selama di Amerika, saya juga mengikuti berita-berita NBL Indonesia. Memang tidak intens. Namun, saya tahu siapa juara dalam dua musim ini," ucap pemain kelahiran 15 Juli 1977 tersebut.

Cacing menyadari bahwa dominasi mantan klubnya masih menancap kuat. Dia pun bertekad memutus rantai juara SM yang dinilai tidak sekuat dulu. Terutama setelah Wellyanson Situmorang dan Agung Sunarko pensiun.

Bagaimana perasaan Cacing ketika nanti bertemu dengan SM di laga resmi NBL Indonesia? "Pasti saya respek dengan mereka. Namun, it's just a game. Sekarang posisi saya berbeda. Saya tentu akan total membela tim sekarang," tegasnya.

Cacing juga memuji skuad Aspac sebagai sekumpulan orang yang memiliki bakat besar. Namun, bagi dia, usaha pemain untuk mendapatkan kemenangan sangat kurang. Para pemain Aspac dia nilai kurang fight dalam situasi tertekan.

Para pemain muda Aspac menilai positif masuknya Cacing. Shooter 23 tahun Oki Wira Sanjaya mengatakan terbantu dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki Cacing.

Sementara itu, Manajer Aspac Tjetjep Firmansyah belum mau berekspektasi tinggi kepada Cacing. Kontribusi seorang pemain dinilai Tjetjep akan tampak dari hasil di lapangan. "Kita lihat dulu prosesnya seperti apa. Mudah-mudahan kami bisa mendapatkan banyak hal dari dia," harapnya. (*/c9/ang)

No comments:

Post a Comment