Thursday, March 21, 2013

Harga Chip Domino Poker - Dimarahi Lebih Keras daripada Pemain Lain

Harga Chip Domino Poker - Dimarahi Lebih Keras daripada Pemain Lain

Texaspoker cc adalah poker online dengan uang asli terpercaya-  Rastafari Horongbala dan Andakara Prastawa menjadi duet maut di Dell Aspac Jakarta. Rastafari pelatih, sedangkan Prastawa pemain. Meski sebisa-bisanya bekerja profesional, perasaan rikuh dan sungkan tetap tak bisa dihindari.

AGUNG - AINUR, Jakarta

---

RAUT muka Rastafari Horongbala terlihat marah besar ketika Andakara Prastawa melakukan turnover. Matanya menatap tajam pemain yang akrab disapa Pras itu saat big match Aspac melawan Pelita Jaya Esia Jakarta Sabtu malam lalu (12/1). Pelatih yang akrab disapa Fari tersebut beberapa kali menunjuk-nunjuk Pras.

Saking marahnya, beberapa ofisial Aspac sampai menepuk-nepuk bahu Fari agar emosinya reda. Apa yang ditunjukkan Fari dalam pertandingan menyiratkan betapa kerasnya sang ayah saat melatih putranya.

Bahkan, meski Pras bermain bagus dengan membukukan poin tertinggi (20 angka) untuk timnya dalam laga itu, Fari tak lantas semringah. Saat rookie 20 tahun tersebut membukukan three point hingga membuat Aspac come back dan berbalik unggul pun, Fari bergeming. "Saya nggak mau pilih kasih saja," ujar Fari.

Dia mengakui, sangat sulit menempatkan diri sebagai pelatih anak sendiri di antara pemain-pemain lain. Fari tak ingin mereka menganggapnya pilih kasih saat memberikan instruksi atau memberinya kesempatan bermain. Karena itu, dia sengaja bersikap keras dan irit pujian.

"Kalau dia (Pras, Red) salah, saya akan lebih marah daripada dengan pemain lain. Bisa jadi itu tidak baik untuk dia, tapi itulah tidak enaknya jadi anak pelatih," imbuhnya lantas tersenyum.

Prastawa adalah anak Rastafari dengan Julisa, mantan pemain tim nasional putri. Laga melawan PJ adalah debut Fari mendampingi Aspac dan Pras. Fari dan Pras juga menjadi kombinasi bapak-anak satu-satunya di NBL Indonesia.

Pras sendiri santai jika sang ayah kerap memarahinya dengan keras. Pemain bertinggi 177 cm tersebut mengatakan bahwa kemarahan itu bertujuan membuatnya berkembang. "Saya menerimanya karena ayah pelatih bagus. Kalau ada yang tidak pas, bisa didiskusikan. Nggak apa-apa," paparnya.

Prastawa mengatakan, memang sudah saatnya dirinya menjalani proses bersama Rastafari. Sejak kelas IV SD dia banyak berlatih dasar bermain basket bersama sang ibu. Juga sering menonton Julisa bertanding. Namun, sejak dia SMP, Fari mulai mengambil alih peran.

Menanggapi peluangnya untuk menjadi rookie of the year musim ini, Prastawa hanya merendah. Dia mengatakan, itu bukan prioritasnya. "Kalau main, saya inginnya menang. Ingin kasih yang terbaik untuk tim. Istilahnya Aspac dulu," tandasnya.

Pras memang sangat berpeluang menjadi rookie of the year. Dalam laga melawan PJ, dia membukukan 20 poin, terbanyak dalam laga tersebut. Kecepatan dan akurasi tembakan pemain berusia 20 tahun itu menjadi penyelamat Aspac di tight game tersebut.

Permainan gemilang Prastawa berlanjut tadi malam (13/1) saat melawan Tonga BSC Jakarta. Dia membukukan 19 poin atau hanya berselisih tiga poin dari Oki Wira Sanjaya yang menjadi top scorer bagi Aspac. "Dia oke mainnya. Namun, dia harus kurangi turnover dan tidak gampang untuk ditrap orang," tutur Fari menilai Pras.

Tuh kan, sudah dipuji ayah... (*/c9/ang)

No comments:

Post a Comment